Perpustakaan Unik di Dunia

Masa Depan Perpustakaan vs Perpustakaan Masa Depan
1 November 2016
Mbah Dauzan: Pejuang Literasi
1 November 2016

Perpustakaan Unik di Dunia

Seorang jurnalis asal Inggris, Alex Johnson baru saja menulis sebuah buku yang isinya bercerita tentang perpustakaan unik dan ‘hampir tidak mungkin’ terpikirkan untuk dibuat dari berbagai negara.

 Dalam wawancaranya bersama program Late Night Live di ABC Radio National, Alex Johnson mengatakan ia masih melihat adanya beberapa orang yang tetap berusaha menjadikan membaca buku tetap menjadi kegemaran.

“Saya rasa banyak tempat-tempat yang dibahas dalam buku saya ini berbasiskan komunitas,” ujar Johnson. “Ketika ada kekhawatiran ekonomi dan politik bagaimana perpustakaan tradisional beroperasi, ada beberapa orang yang tertarik dan memastikan keberadaan tempat-tempat dimana orang-orang masih bisa membaca.”

Misalnya saja sebuah perpustakaan di stasiun kereta bawah tanah yang ada di Santiago, Cile. Perpustakaan ini dibuat pada tahun 1996. Para pengguna kereta dan pejalan kaki bisa mengambil buku di satu stasiun dan mengembalikkannya di stasiun lain. Bisa dikatakan ini menjadi perpustakaan umum terbesar di Amerika Serikat.

Sementara di Sao Paulo, Brazil, para penumpang taksi bisa menemukan buku-buku di belakang kursi sopir. Untuk meminjam buku, mereka diharuskan mengisi detail dan informasi di sebuah buku yang telah disediakan. Buku ini bisa dikembalikan di taksi-taksi lainnya. Salah satu toko buku terbesar Saraive telah menyumbangkan lebih dari 80.000 buku dan diperkirakan ada lebih dari 50.000 taksi yang menawarkan jasa perpustakaan keliling tersebut.

Konsep perputskaan keliling juga diterapkan di Mongolia. Di negara yang berbatasan dengan Rusia ini, sebuah perpustakaan berkeliling membawa buku-buku khusus anak-anak di atas unta. Mereka mencoba untuk menggapai komunitas nomaden, atau yang berpindah-pindah, di kawasan gurun Gobi. Dengan adanya perpustakaan keliling ini diharapkan bisa mendorong kegemaran buku di kalangan anak-anak.

Sementara itu, Johnson menceritakan bahwa perpustakaan kecil kini telah berkembang di kawasan Eropa dan Amerika Serikat.

Ia menceritakan bagaimana sebuah pojokan telepon umum diubah menjadi perpustakaan. Ada pula kios, instalasi seni, bahkan kulkas, yang dijadikan tempat menaruh buku-buku dan warga bisa meminjamnya, selain juga mendonasikan buku-buku mereka.

“Mereka yang bekerja di perpustakaan sudah lama berhadapan dengan masalah jarak, ekonomi, bahkan politik, untuk menghadirkan tulisan dan buku-buku kepada audiens yang lebih luas,” jelas Johnson. “Karenanya, mereka meneruskan reputasi ini, meski telah banyak perubahana bagaimana kita membaca dan berbagi buku di abad 21 ini. Yang pasti, orang-orang senang pergi ke perpustakaan,” tambahnya.

Berikut beberapa foto dari perpustakaan unik di sejumlah negara.

Perpustakaan di Muyinga, Burundi, khusus bagi anak-anak yang tuna rungu. Foto: Carchitects and Studies, Alex Johnson.
Perpustakaan di Pantai Bondi, Sydney yang terbuat dari kumpulan rak-rak buku di atas pasir. Foto: Alex Johnson.
Perpustakaan keliling yang membawa buku-buku untuk anak-anak di kawasan gurun pasir di Mongolia. Foto: Alex Johnson.
Perpustakaan keliling dengan menggunakan sepeda yang dirancang khusus. Foto: Alex Johnson.
(Sumber: ABC Radio Australia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X