Prestasi Mentereng Duta Literasi Jakarta Selatan

Buku Anak Berkonten Dewasa, Kok Bisa?
15 Maret 2017
Asyiknya Wisata Literasi di Taman Tabebuya
30 Maret 2017

Prestasi Mentereng Duta Literasi Jakarta Selatan

“I refer myself as a lifelong learner as I am a passionate student who is eager to learn various fields and always in search of opportunities and experiences”. (Anggun Citra Berlian)

Pemilihan Abang None Buku yang digagas oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (dahulu bernama Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah) Provinsi DKI Jakarta telah satu dekade diselenggarakan. Dalam kurun waktu sepuluh tahun sudah puluhan pemenang yang dinobatkan menjadi duta literasi DKI Jakarta. Keberadaan Abang None Buku Jakarta kerap menghiasi berbagia acara resmi yang digelar oleh DPK atau Pemda DKI Jakarta.

Menghadiri acara seremonial dan kegiatan resmi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan hanya sebagian kecil tugas seorang duta buku/literasi DKI Jakarta. Tujuan diselenggarakannya ajang pemilihan Abang None Buku DKI Jakarta adalah untuk mencari ikon remaja yang berprestasi dan dapat menjadi duta literasi di kalangan remaja dan masyarakat umum. Pemenang pemilihan Abang None Buku diharapkan bisa mensosialisasikan dan meningkatkan minat baca masyarakat untuk membaca buku dan mengunjungi perpustakaan. Duta buku diharapkan menjadi juru kampanye yang berperan aktif di  masyarakat dan terjun langsung dalam dunia literasi di Jakarta.

Kiprah inilah yang diharapkan dari tiap pemenang pemilihan Abang None Buku DKI Jakarta. Wujud nyata keterlibatan di masyarakat serta langkah konkrit gerakan literasi apa yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca masyarakat, menjadi tantangan para pemegang predikat Abang None Buku DKI Jakarta.

Keraguan tentang eksistensi dan kiprah para pemenang Abang None Buku dijawab oleh dua orang pemenang pemilihan Abang None Buku Jakarta Selatan tahun 2016. Tidak hanya mengandakalkan pesona fisik, prestasi “mentereng” kerap ditorehkan dua none buku ini. Jovanka dan Anggun adalah sedikit dari pemenang Abang None Buku Jakarta Selatan yang membuktikan dirinya sebagai Duta Literasi Jakarta yang syarat akan prestasi. Tidak terbatas pada kecerdasan akademik di kampus, mereka telah berhasil mengembangkan dirinya dalam dunia literasi dengan menjadi seorang penulis. Jovanka yang tecatat sebagai mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) membuktikan dirikan sebagai duta literasi dengan menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Defender. Sedangkan Anggun, mahasiswa Universitas Indonesia, membuktikan dirinya eksis sebagai duta literasi melalui prestasinya sebagai kolumnis tetap di harian Jawa Pos. Berikut profil dua duta literasi yang patut menjadi teladan bagi rekan seusianya.

Jovanka Audria Junarso

“Ratu kompetisi yang bercita-cita menjadi penulis”

 Dara cantik kelahiran tahun 1998 kerap dikatakan mirip dengan selebriti Manohara. Parasnya yang putih, cantik dan berambut panjang dengan rahang layaknya model membuat sosok Jovanka sangat mudah dikenali dan menarik untuk dilihat. Tidak hanya berbekal  kecantikan fisik, segudang prestasi pernah diraih oleh Jo (sapaan Jovanka). Tak tanggung-tanggung juara diberbagai lomba baik tingkat kampus, maupun level nasional pernah diraihnya.

Prestasi Jo diberbagai bidang tak bisa dianggap remeh, mahasiswa semester satu Universitas Multimedia Nusantara terbilang sangat aktif mengikuti berbagai ajang pemilihan dan duta. Tercatat, Jovanka pernah mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris, pemilihan Putri Bahari Indonesia Pariwisata, Miss Teen Beauty DKI Jakarta, Duta Bahasa DKI Jakarta dll. Beberapa ajang diikutinya mendapatkan predikat tertinggi atau juara.

Keinginan untuk terus mengasah diri dan meningkatkan kemampuannya, menjadi salah satu faktor utama keikutsertaan Jo pada ajang Abang None Buku Jakarta Selatan tahun 2016. Kehadiran Jo pada pemilihan Abang None Jakarta Selatan telah menarik perhatian dewan juri sejak tahap seleksi administrasi. Penampilan fisik yang menarik dan daftar panjang prestasi yang pernah diraih Jo, menjadikan dirinya masuk ke dalam pantauan tim juri sejak awal. Seleksi wawancara dan uji bakat membuktikan prediksi dewan juri terhadap Jovanka benar. Tidak hanya cantik dan cerdas, pembawaan Jovanka yang penuh percaya diri dan pandai membawa diri menjadikan dirinya melenggang ke semifinal.

Kemampuan Jovanka teruji  saat penentuan 10 besar Abang None Buku Jakarta Selatan, syarat untuk membuat resensi buku seakan menjadi ajang untuk menunjukan kemampuan Jo dalam  dunia tulis menulis dan literasi. Pada puncak acara yang digelar di Jakarta Convention Center, Jo mencuri perhatian juri dan penonton yang hadir dengan membawakan sebuah dongeng menggunakan bahasa Inggris. Penampilan Jo pada malam tersebut sangat bersinar dan tak heran gelar None Buku Jakarta Selatan tahun 2016 berhasil diraihnya.

Kiprah Jo sebagai duta buku Jakarta Selatan diisi dengan dedikasi mengisi berbagai acara edukatif di perpustakaan RPTRA di Anggrek Bintaro. Hampir setiap akhir pekan Jo dan rekan Ikanobu Jakarta Selatan melakukan kegiatan literasi berupa pembacaan dongeng bagi pengunjung perpustakaan dan aktif memberikan pengajaran Bahasa Inggris bagi warga sekitar RPTRA Anggrek Bintaro. Hal ini dilakukan Jo bukan semata-mata menjalankan tugas sebagai duta literasi, namun juga hasrat dan kecintaannya kepada dunia buku, pendidikan dan anak-anak yang mendorongnya untuk aktif terjun di masyarakat. Jo ingin memberikan manfaat bagi masyarakat dan memberikan sedikit pengetahuannya kepada adik-adik di RPTRA.

Disela-sela kesibukannya sebagai mahasiswi UMN, Jo aktif menjadi penyiar dan produser 107.7 FM UMN Radio. Salah satu prestasi yang ditorehkan Jo pada baru-baru ini adalah menjadi moderator Seminar “Jurnalika Fair: lets write and find the uniqueness of yourself” bersama Dewi Dee Lestari, pada akhir tahun 2016. Keikutsertaan Jo pada seminar ini seakan menjadi jalan untuk memasuki dunia penulis profesional sekaligus sebagai ajang pembelajaran bagi Jo untuk memetik ilmu dari seorang penulis novel terkenal sekelas Dewi “Dee” Lestari.

Prestasi terakhir yang ditorehkan Jo di bidang literasi adalah dengan menerbitkan novel  berjudul “The Defender”. Jo menyebutkan bahwa kecintaannya telah dimulai sejak kecil, bahkan dirinya pernah bercita-cita untuk menjadi penulis. Keterbatasan waktu dan ide yang “mentok” kerap menjadi kendala bagi Jo dalam menyelesaikan cerita yang ditulisnya. Seakan berjodoh dengan dunia menulis, kecintaan Jo pada menulis seakan kembali terasah melalui tangan seorang dosen “Creative Writing”, mata kuliah yang harus diambil Jo. Dian Nuranindya adalah dosen Creative Writing yang telah menjadi mentor, pembimbing dan penyemangat dalam mengasah kemampuan menulis Jo. Melalui tangan dingin dosen Dian, akhirnya Jovanka berhasil merampungkan novel pertamanya. Novel ini merupakan wujud karya literasi terbesar Jovanka di tahun 2016.

The Defender merupakan novel yang mendapat inspirasi dari berbagai penulis favorit Jovanka seperti Suzanne Collins, Veronica Roth, James Dashner dan Sir Arthur Conan Doyle. Ide cerita novel novel ini didapat Jo dari pengalamannya dalam mengikuti berbagai kompetisi dan pemilihan duta yang telah dilaluinya.

Dirilisnya novel The Defender bukan menjadi akhir prestasi Jovanka dalam dunia literasi, justru novel pertamanya akan dijadikan pelecut untuk menerbitkan karya lain. Beberapa cerita telah ditulis di laptopnya, semoga dalam waktu dekat akan ada karya lain yang diterbitkan Jovanka.

 

Anggun Citra Berlian

Youth Influencer yang tak pernah berhenti belajar”

 Gadis manis yang identik dengan rambut keriting ini sangat mudah dikenali dan diingat. Anggun, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia tidak usah diragukan kecerdasannya. Sejak kecil Anggun kerap menjadi juara kelas dan meraih berbagai prestasi pada ajang bergengi.

Anggun kerap mendeskripsikan dirinya sebagai “youth influencer”, hal ini juga yang membawa dirinya meraih predikat Wakil Satu None Buku Jakarta Selatan 2016. Cerdas, komunikatif, dan supel adalah gambaran tentang pribadi Anggun ketika mengikuti ajang pemilhan Abang None Buku Jakarta Selatan. Pengetahuannya yang luas tentang isu-isu di Jakarta telah menjadikan Anggun sebagai salah peserta favorit. Pemahaman dan pengetahuannya tentang Jakarta Smart City menjadi menarik perhatian juri dan panitia. Tak jarang rekan finalis Abang None Buku bertanya kepada Anggun mengenai isu-isu kejakataan.

Penguasaan bahasa asing terutama Bahasa Inggris telah membawa Anggun meraih berbagai prestasi diantaranya peserta pertukaran pelajar Indonesia-United States Youth Leadership Program tahun 2013, Delegasi Indonesia pada ajang ASEAN Youth Expo 2013, Finalis Airlangga Youth Conference and Paper Competition 2015, Pertukaran pelajar Burapha University Summer Cultural Exchange, Thailand tahun 2016 dll.

Cita-cita Anggun untuk menjadi “youth influencer” telah dibuktikan dengan menjadi duta literasi Jakarta Selatan. Kemenangan Anggun pada pemilihan Abang dan None Buku Jakarta Selatan telah menjadikan dirinya sebagai seorang duta literasi bagi remaja dan masyarakat. Gelar sebagai None Buku Jakarta Selatan dijadikan salah satu caranya untuk menjadi “youth influencer” yaitu dengan menyebarkan pengaruh positif bagi kaum muda dan masyarakat khususnya di bidang literasi. Anggun menggambarkan dirinya sebagai pemuda yang yang haus untuk belajar dan tidak akan berhenti mencari peluang dan pengalaman.

Kontribusi Anggun sebagai duta literasi dibuktikan dengan mengikuti ZETIZEN National Challange-Be A Good Zetizen yang digagas oleh Jawa Pos. Ajang ini merupakan kompetisi bagi remaja untuk mengeksplorasi aktivitas sosial yang pernah dilakukan dan sejauh mana dampaknya bagi masyarakat. Anggun terpilih sebagai salah satu Alpha Zetizen mewakili DKI Jakarta. Keberhasilan menjadi salah satu pemenang membuka jalan bagi Anggun untuk masuk ke dalam dunia media dan literasi. Pihak Jawa Pos melihat potensi Anggun dan menawarkan posisi sebagai penulis kolom ZETIZEN di harian Jawa Pos.

Dunia tulis-menulis bukan hal baru bagi Anggun, sejak duduk di bangku SMP dia aktif sebagai redaksi majalah sekolah dan akhirnya menjadi ketua majalah sekolah serta berhasil menerbitkan 3 edisi dalam waktu satu tahun. Prestasi lain dalam dunia penerbitan ditorehkan Anggun dengan menjadi kontributor “Terra Incognito: Jejak-jejak di Tanah Antah-berantah” yang diterbitkan Garudhawaca tahun 2015.

Ditanya tentang ide dan inspirasi menulis, Anggun menjawab “inpirasi berasal dari diri sendiri termasuk pengalaman pribadi dan hasil pengamatan. Saya biasanya bertanya pada diri sendiri, “apa  yang perlu saya tahu sebagai anak muda dan hal apa yang penting serta menarik untuk disampaikan?”. Pertanyaan itulah yang terus digali dalam benak Anggun dan akhirnya melahirkan karya literasi yang menginpirasi anak muda dan masyarakat. Kepintaran Anggun untuk merangkai kata yang mudah diterima untuk remaja dan kaum muda seusianya dan pemilihan tema yang tingan namun kaya manfaat menjadi dasar pemilihan Anggun sebagai penulis di rubrik ZETIZENSHIP. Sejak Februari 2017, Anggun resmi mengisi kolom ZETIZENSHIP harian Jawa Pos. Materi tulisan yang dipilih Anggun sangat dekat dekan dunia anak muda dan disampaikan dengan bahasa yang sangat mudah diterima remaja dan mahasiswa.

Jadi prestasi literasi apalagi yang akan ditorehkan oleh Jovanka dan Anggun, kita tunggu saja. Sukses terus Jovanka & Anggun, giatkan semangat literasi dan teruslah berkarya.(NT)

 

1 Comment

  1. hari wibowo berkata:

    Selamat & sukses untuk None Jovanka dan None Anggun..
    Utk “None” Norma.. Good luck and keep up the good work..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X