China Bangun Perpustakaan Futuristik Berkoleksi 1,2 Juta Buku

Penerimaan PJLP Sudin Perpustakaan dan Kearsipan Kota Adm. Jakarta Selatan
27 November 2017
Talkshow Menjadi Produktif dan Kreatif di Era Digital
5 Desember 2017

China Bangun Perpustakaan Futuristik Berkoleksi 1,2 Juta Buku

TIANJIN – E-book dan e-reader telah banyak mengubah kebiasaan masyarakat dalam membaca buku akhir-akhir ini. Namun, perpustakaan konvensional dan buku cetak buktinya masih tetap memiliki tempat di hati para pembaca.

Di Tianjin, China, pemerintah setempat membangun perpustakaan yang besar dan unik. Koleksi bukunya pun besar mencapai 1,2 juta buah. Perpustakaan Tianjin Binhai sudah dibuka kepada publik pada bulan lalu. Sesuai namanya, perpustakaan yang terdiri atas lima lantai itu berlokasi di Tianjin Binhai. Luas keseluruhannya mencapai 33.700 meter persegi.

Perpustakaan tersebut menjadi salah satu perpustakaan terbesar di dunia dengan rancangan yang sangat kreatif. Proyek pembangunan Perpustakaan Tianjin Binhai dipimpin perusahaan konstruksi asal Belanda MVRDV yang berkolaborasi dengan arsitek lokal dari Institut Rancangan dan Perencanaan Perkotaan Tianjin.

Gedung yang dilengkapi bola raksasa di tengah ruangannya itu berhasil rampung dalam jangka waktu sekitar tiga tahun. Jutaan buku disusun di setiap rak yang meleok-leok. Hal ini untuk memberikan sensasi baru kepada para pengunjung seakan-akan mereka sedang berjalan di dalam bola mata.

Dengan demikian, tak heran jika perpustakaan itu dijuluki Mata Binhai. Dengan permukaan warna putih, susunan buku-buku itu kian mudah dilihat. “Interior Perpustakaan Tianjin Binhai hampir mirip gua,” ujar salah satu pendiri MVRDV, Winy Maas, dikutip Newsweek.

Winy mendirikan gedung ini dengan menciptakan ruang publik yang indah di dalamnya. Sudut dan kurva di dalamnya dimaksudkan untuk tempat membaca, berjalan, bertemu, dan berdiskusi. Suasana di ruangan utama Perpustakaan Tianjin Binhai mirip dengan ruang tamu modern. Hanya, para pengunjung tidak duduk di atas sofa, tapi di atas rak yang tersusun mirip tangga. Lantai 1 dan 2 merupakan ruangan khusus membaca, sedangkan lantai 3 ke atas merupakan area bersantai, bertemu, dan juga kantor.

Penggagas Perpustakaan Tianjin Binhai adalah Pemerintah Kota Tianjin Binhai juga. Perpustakaan yang terletak berdekatan dengan taman itu merupakan proyek paling cepat yang pernah dikerjakan MVRDV. Dengan jadwal yang padat, satu bagian konsep yang esensial terpaksa dibatalkan, yakni akses menuju rak bagian atas dari atrium.

“Perubahan ini bertentangan dengan saran MVRDV karena akses menuju rak bagian lebih atas menjadi tidak mungkin dilakukan. Visi penuh perpustakaan kemungkinan dapat direalisasikan di masa yang akan datang,” ungkap MVRDV.

Sejak dibuka pada 1 Oktober lalu, Perpustakaan Tianjin Binhai mendapat tanggapan dan penilaian positif dari masyarakat, baik di media massa ataupun media sosial. Julukan perpustakaan itu bermacam-macam, mulai dari Perpustakaan Paling Indah China, Lautan Ilmu Pengetahuan, hingga Super Fiksi Ilmiah.

Perpustakaan Tianjin Bin hai merupakan investasi ambisius di tengah arus digitalisasi. Dewasa ini para pembaca lebih memilih e-book dan e-reader yang lebih murah dan mudah seperti di Amazon Kindle. Berdasarkan The Guardian, penjualan e-book telah melonjak tinggi dari USD20 juta pada 2006 menjadi sekitar USD1 miliar.

Sebagian perpustakaan di beberapa negara di dunia juga menyediakan e-book. Para pelanggannya bahkan tidak perlu datang langsung. Mereka bisa mengaksesnya melalui komputer, tablet, atau ponsel pintar. Perubahan kebiasaan itu memaksa para pustakawan berpikir keras mengenai cara menarik para pengunjung.

Gedung perpustakaan unik juga terdapat di Italia. Perpustakaan Biblioteca Sandro Penna mirip piring terbang. Perpustakaan tersebut terletak di Kota Perugia, sekitar 200 kilometer dari utara Kota Roma. Rak dan sofa tampak berwarna merah muda akibat pantulan cahaya dari dinding kaca yang berwarna merah muda.

Perpustakaan Biblioteca Sandro Penna pertama kali dibuka kepada publik pada 14 Mei 2004. Jumlah lantainya mencapai tiga tingkat. Setiap lantai dilengkapi dengan work station multimedia seperti akses internet, akses dokumen, dan musik. Khusus lantai dua hanya diperuntukkan bagi anak-anak, baik belia ataupun remaja.

Perpustakaan Kota Stuttgart (Stuttgart City Library) di Jerman juga menarik banyak perhatian, tidak hanya dari para pencinta buku, tapi juga ahli arsitektur. Gedung yang dirancang Yi Architects itu dianggap sebagai salah satu perpustakaan paling unik. Meski bentuknya kubus biasa, material yang digunakan tidak lazim.

Yi Architects menyatakan, “batu bata” yang digunakan terbuat dari kaca yang membeku. Bentuk dan simetri lorong masuknya juga terinspirasi dari Cenotaph for Newton karya Etienne Boullee. Adapun area tengahnya mengikuti rancangan panteon kuno. Perpustakaan lima lantai itu dibuka pada 21 Oktober 2011 silam.

 

(sumber : sindonews.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X